Armin Bell dan Willyana Raih Pengrahgaan Sastra Litera 2018

Armin Bell dan Willyana Raih Pengrahgaan Sastra Litera 2018

Tangerang Selatan (sr) – Armin Bell dan Willy Ana meraih Penghargaan Sastra Litera 2018. Armin memang atas cerpennya berjudul “Monolog di Penjara” dan Willy Ana menang atas puisinya berjudul “Petuah Kampung”. Penghargaan More »

Tafsir Puitik Sejarah Bung Karno (Bagian Dua)

Tafsir Puitik Sejarah Bung Karno (Bagian Dua)

Seperti tercatat dalam buku-buku sejarah, Bung Karno menempati rumah pengasingannya di Bengkulu pada 1938-1942. Bung Karno menjejakkan kaki di Bengkulu pada 14 Februari 1938. Sebelumnya, bersama istrinya, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna More »

<B/>Sajak-sajak Suara Kemerdekaan<B/>

Sajak-sajak Suara Kemerdekaan

Karya Ahmadun Yosi Herfanda NYANYIAN KEMERDEKAAN Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia Akankah kau biarkan aku duduk berduka Memandang saudaraku, bunda pertiwiku Dipasung orang asing itu? Mulutnya yang More »

Danarto Membawa “Doa Rabiah dari Basra”

Danarto Membawa “Doa Rabiah dari Basra”

Tangerang Selatan (SR) – Lama tidak terdengar kabarnya, novelis sufistik Danarto tiba-tiba muncul di kafe Roti Bakar 88 Pamulang. Malam itu, Sabtu 17 Juli, Danarto memang ditunggu kehadirannya untuk mengisi kultum sastra More »

Ngabuburit Sastra di Masjid Istiqlal Bincangkan Peran Sastra Islami

Ngabuburit Sastra di Masjid Istiqlal Bincangkan Peran Sastra Islami

JAKARTA (SR) — Ngabuburit sastra dengan menghadirkan sejumlah seniman dan sastrawan nasional digelar di selasar Masjid Istiqlal 14-18 Juni 2017, di depan sekitar 1.000 jamaah yang menunggu saat berbuka puasa. Acara yang More »

 

Armin Bell dan Willyana Raih Pengrahgaan Sastra Litera 2018

Willyana terima penghargaan Litera 2018

Tangerang Selatan (sr) – Armin Bell dan Willy Ana meraih Penghargaan Sastra Litera 2018. Armin memang atas cerpennya berjudul “Monolog di Penjara” dan Willy Ana menang atas puisinya berjudul “Petuah Kampung”.

Penghargaan untuk mereka telah diserahkan pada Malam Anugerah Sastera Litera 2018 di Resto Kampung Anggrek, Jalan Raya Victor, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan, Jumat, 27 Juli 2018 malam.

Cerpenis dan penyair muda tersebut mendapatkan trofi, sertifikat, buku, dan sejumlah uang tunai yang diserahkan langsung oleh Pemimpin Redaksi Portal Sastra Litera (www.litera.co.id) Ahmadun Yosi Herfanda.

Willy Ana — lahir di Bengkulu Selatan, 29 September 1981 — adalah penyair produktif yang kini berdomisili di Depok. Buku-buku puisinya yang telah terbit adalah Aku Berhak Bahagia (2016), Tabot: Aku Bengkulu dan Petuah Kampung (2017). Baru-baru ini ia bersama kawan-kawannya sukses mengadakan Festival Sastra Bengkulu, pada 13-15 Juli 2018.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppSMSTelegramYahoo MessengerEmailPrintShare

Tafsir Puitik Sejarah Bung Karno (Bagian Dua)

Ahmadun YH Sarasehan FSB Bengkulu 2018

Seperti tercatat dalam buku-buku sejarah, Bung Karno menempati rumah pengasingannya di Bengkulu pada 1938-1942. Bung Karno menjejakkan kaki di Bengkulu pada 14 Februari 1938. Sebelumnya, bersama istrinya, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna Djuami, Bung Karno berlayar dari tempat pembuangannya di Flores ke Pulau Jawa. Bung Karno hanya seorang diri ketika tiba di Bengkulu. Keluarganya baru menyusul beberapa minggu kemudian. Ketika rumah pengasingannya sedang diperbaiki, Bung Karno sempat ditempatkan di Hotel Centrum.

Rumah pengasingan yang ditempati Bung Karno sekeluarga adalah milik pedagang keturunan Tionghoa, Tjang Tjeng Kwat. Seperti pernah ditulis oleh Adhitya Ramadhan di Kompas.com (https://travel.kompas.com, 08/10/2013), pada tahun 1940-an, rumah dengan dua kamar tidur itu berada agak di pinggir kota. Dahulu, Bengkulu dipilih sebagai lokasi pengasingan Bung Karno karena aksesnya yang sulit dan terpencil. Namun, seiring perkembangan kota, rumah pengasingan itu kini persis berada di jantung Kota Bengkulu. Suatu saat, di rumah pengasingan itu, Bung Karno bersama Inggit Garnasih menjamu keluarga Hassan Din, tokoh Muhammadiyah asal Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Tafsir Puitik Sejarah Bung Karno (Bagian Pertama)

sejumlah-sastrawan-nusantara-dan-manca-negara-meriahkan-festival-sastra-bengkulu-768x305

Belum banyak pembicaraan tentang puisi sejarah, atau puisi yang berisi sejarah, tak sebanyak pembicaraan tentang novel sejarah. Padahal, puisi tentang sejarah sangat banyak, bertebar di beragai media dan buku. Banyak penyair ternama yang banyak, setidaknya sesekali, mengangkat sejarah pada puisi-puisi mereka. Sebutlah Taufiq Ismail yang mencatat peristiwa pergeseran kekuasaan tahun 1965. Chairil Anwar juga cukup banyak menulis puisi bernuansa sejarah, seperti “Diponegoro”, “Perjanjian dengan Bung Karno”, dan “Krawang-Bekasi”. Penyair Leon Agusta, Gunawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, pernah menulis puisi sejarah atau puisi bernuansa sejarah. Belakangan, Rida K. Liamsi banyak menulis puisi tentang sejarah Melayu.

Sajak-sajak Suara Kemerdekaan

Sejumlah anggota komunitas pengendara sepeda motor melakukan upacara pengibaran bendera merah putih saat Peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI  di Lautan Pasir, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (17/8).  ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/ama/15

Karya Ahmadun Yosi Herfanda

NYANYIAN KEMERDEKAAN

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit-manisnya isi dunia
Akankah kau biarkan aku duduk berduka
Memandang saudaraku, bunda pertiwiku
Dipasung orang asing itu?
Mulutnya yang kelu
Tak mampu lagi menyebut namamu

Berabad-abad aku terlelap
Bagai laut kehilangan ombak
Atau burung-burung yang semula
Bebas di hutannya
Digiring ke sangkar-sangkar
Yang terkunci pintu-pintunya
Tak lagi bebas mengucapkan kicaunya

Danarto Membawa “Doa Rabiah dari Basra”

Danarto Tadarus Puisi Litera OKEOKEOKE

Tangerang Selatan (SR) – Lama tidak terdengar kabarnya, novelis sufistik Danarto tiba-tiba muncul di kafe Roti Bakar 88 Pamulang. Malam itu, Sabtu 17 Juli, Danarto memang ditunggu kehadirannya untuk mengisi kultum sastra religius dalam acara Tadarus Puisi Litera, yang sekaligus untuk menyambut malam nuzulul Qur’an.
Novelis yang juga penyair itu mengawali kultumnya dengan membicarakan sajak “Doa Rabiah dari Basra” karya ibu para sufi besar, Rabiah al Adawiyah, terjemahan Taufiq Ismail, berikut ini.

Wahai Tuhanku, apa pun jua bahagian dari dunia kini yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkanlah itu pada musuh-musuhMU. Dan apa pun juga bahagian dari dunia akan tiba yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkanlah itu pada sahabat-sahabatMu. Bagiku, Dikau sudah cukup.
Wahai Tuhanku, urusanku dan gairahku di dunia kini dan dunia akan tiba adalah semata mengingat Dikau di atas segalanya. Dari kesegalaan di semesta ini, pilihanku adalah berangkat menemui-Mu. Inilah yang akan kuucapkan kelak: “Dikau segala-galanya.” Wahai Tuhanku, tanda mata paling permata dalam hatiku ialah harapanku padaMu. Dan kata paling gula di lidahku adalah pujian padaMu. Dan waktu paling kurindu adalah jam ketika aku bertemu dengan Kau.
Wahai Tuhanku, aku tak dapat menahankan hidup duniawi ini tanpa mengingatMu. Dan bagaimana mungkin daku hidup di dunia akan tiba tanpa menatap wajahMu?

Ngabuburit Sastra di Masjid Istiqlal Bincangkan Peran Sastra Islami

Ahmadun -ngabuburit-sastra-di-masjid-istiqlal-jakarta

JAKARTA (SR) — Ngabuburit sastra dengan menghadirkan sejumlah seniman dan sastrawan nasional digelar di selasar Masjid Istiqlal 14-18 Juni 2017, di depan sekitar 1.000 jamaah yang menunggu saat berbuka puasa.

Acara yang diselenggarakan oleh Masjid Istiqlal bersama Dirjen Kebudayaan Kemdikbud dan Yayasan Rawamangun Mendidik ini diformat mirip talk show dengan diselingi pertunjukan musik religi Bianglala Voice. Hadirin berdialog tentang seni dan sastra religius dengan Embie C Noer, Yanusa Nugroho, Ahmadun Yosi Herfanda, Nurdin M Nur, dan Nanang Hp.

Acara diawali pertunjukan musik. Selain membawakan lagu-lagu religius, Bianglala juga membawakan sajak-sajak religius. Hadirin tampak antusian mengikuti acara. Bahkan, pada sesi Ahmadun YH, beberapa jamaah mengajukan diri untuk ikut membacakan sajak penyair religius mantan redaktur sastra Republika itu. Salah satunya adalah Beno SK, pebisnis perjalanan umrah dan haji, yang membacakan “Sajak Keranda” dengan penuh penghayatan.

Anugerah Sastra Litera 2017 Diraih para Penulis Muda

Peraih Anugerah Litera 2017 OKE

TANGERANG SELATAN (SR) — Hari Anugrah Sastra Litera 2017 yang digelar hari Jumat (28/4) di Resto Kampung Anggrek Buaran, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, berjalan meriah. Banyak sastrawan, pelaku seni, pelajar dan mahasiswa menghadiri acara yang diadakan oleh portal sastra Litera (www.litera.co.id) tersebut.

Kalangan sastrawan yang hadir tidak hanya berasal dari kota Tangsel saja tetapi datang juga dari beberapa kota sekitar. Tampak hadir, antara lain Sutardji Calzoum Bachri, Rida K. Liamsi, Hasan Aspahani, Maman S. Mahayana, Slamet Widodo, Fikar W. Eda, Shinta Miranda, Rini Intama, Asrizal Nur, Abah Yoyok, Humam S. Chudori, Rukmi Wisnu Wardani, Ni Komang Ariani, Dedy Tri Riyadi, Nana Sastrawan, Handoko F. Zainsyam, Shobir Pur, Uki Bayu Sejati, Budhi Setyawan, dan beberapa rekan pemerhati sastra dari PDS HB Jassin.

Acara yang didukung oleh Djarum Foundation serta Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud RI ini dimulai tepat pukul 14.30 wib, diawali dengan sambutan panitia yang disampaikan oleh Mustafa Ismail. Dalam sambutannya penyair kelahiran Aceh tersebut memberi apresiasi tinggi pada kalangan yang hadir. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film pendek karya sastrawan muda Tangerang Nana Sastrawan yang berjudul Elegi Penyair”. Acara yang dipandu oleh MC Andy Lesmana dan Zhevita Hariyani makin ramai ramai saja dikunjungi para pengunjung saat hari makin sore.

Ahmadun Umumkan 23 Nomine Anugerah Sastra Litera

litera-peluncuran-1-563x353

TEMPO.CO, Jakarta – Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda mengatakan sebanyak 23 sastrawan Indonesia yang terdiri dari penyair dan cerpenis berpeluang untuk meraih Anugerah Sastra Litera 2017 — karya mereka pernah dimuat di portal sastra Litera yang beralamat di litera.co.id.

“Sebagian di antara mereka adalah nama-nama baru dalam dunia sastra. Ini menggembirakan,” kata Ahmadun Yosi Herfanda, pemimpin umum sekaligus pemimpin redaksi Litera di Jakarta, 29 Maret 2017.

Menurut Ahmadun Yosi Herfanda, karya mereka mengisi rubrik puisi dan cerpen Litera selama 2016. Di jajaran penyair, ada Budhi Setyawan, Dedy Tri Riyadi, Eddy Pranata PNP, Eko Ragil Ar-Rahman, Fikar W. Eda, Iwan Setiawan, Moh. Ghufron Cholid, Rai Sri Artini, Rukmi Wisnu Wardani, Surya Gemilang, Wahyu Gandi G, dan Willy Ana.

Untuk kategori cerpen, ada Armin Bell, Dianing Widya, Kasim MD, Kristiawan Balasa, Kurnia Gusti Sawiji, Mahan Jamil Hudani, Ni Komang Ariani, Setiyo Bardono, Seto Permada, Yuditeha dan Zaenal Radar T.

Imaji yang Menari Dalam Puisi Alya Salaisha

Alya dan Bintang OKE

Apresiasi Ahmadun Yosi Herfanda

Puisi dimulai dari kegairahan

Dan berakhir dengan kearifan

(Robert Frost)

Membaca sajak-sajak Alya Salaisha dalam buku kumpulan puisi Taman Terakhir saya menemukan imaji yang menari-nari dalam sajak. Imaji itu bergerak dengan gemulai, di balik sususan kata yang indah, membangun gambar-gambar dinamis yang samar, dan menghadirkan teka-teki makna yang menantang pembaca untuk menangkapnya. Tidak gampang menjawab teka-teki makna yang tersembunyi di balik tarian imaji itu, ketika deretan imaji membentuk gambar-gambar yang surealistik.

Sutardji akan Baca Puisi dalam Penghargaan Sastra Litera

Sutardji Calzoum Bachri KL

Tangerang Selatan(SR) – Presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, akan tampil membaca puisi pada Malam Penghargaan Sastra Litera 2017 di Resto Kampung Anggrek, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Jumat 28 April 2017. Acara dalam rangka HUT portal sastra Litera (www.litera.co.id) ini akan dimulai pukul 15.00 wib dengan sarasehan sastra. “Ini untuk pertama kalinya Bang Sutardji akan baca puisi di Tangsel,” kata Mustafa Ismail, ketua Panitia.

Portal sastra Litera, lanjut Mustafa, akan memberikan penghargaan sastra kepada penulis puisi terbaik dan cerpen terbaik yang telah ditayangkan di portal sastra tersebut. Puisi dan cerpen terbaik itu akan dipilih dari karya-karya yang telah ditayangkan di portal sastra Litera dalam rentang waktu hampir setahun, sejak April hingga 30 Desember 2016. “Selain akan memdapatkan plakat, pememang juga akan menerima uang tunai,” katanya.

Menurut Mustafa, untuk tahun-tahun berikutnya, pemenang akan dipilih dari puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang ditayang di portal Litera sejak awal Januari hingga 30 Desember. Mulai tahun depan, tiap bulan akan dipilih dua cerpen unggulan dan 10 puisi unggulan. Sehingga, dalam setahun akan terkumpul 24 cerpen unggulan dan 120 puisi unggulan. Namun, untuk tahun ini baru dapat dipilih 12 cerpen unggulan dan 24 puisi unggulan. “Karya-karya unggulan tersebut akan dibukukan bersama karya pemenang,” katanya.

Empat Penyair Peraih Penghargaan Sastra Baca Puisi di Tembi

Ahmadun YH - Umi Kulsum - Rini Intama - Tjahjono Widarmanto - foto bareng usai baca puisi di Tembi Bantul

Bantul (SR) — Empat penyair yang antologi puisinya mendapat penghargaan pada Hari Puisi Indonesia 2016,  tampil  membacakan puisi karya mereka pada  acara Sastra Bulan Purnama di Tembi Rumah Budaya, Jl Parangtritis Km 8,5, Bantul, Yogyakarta, Jumat, 13 Januari 2017.

Ke-4 penyair asal kota berbeda itu adalah Ahmadun Yosi Herfanda (Tangerang Selatan) dengan kumpulan puisi berjudul Ketika Rumputan Bertemu Tuhan, Rini Intama (Tangerang) membacakan puisi yang terkumpul dalam kumpulan puisi Kidung Cisadane, Umi Kulsum (Yogyakarta) dengan antologi puisi  berjudul Lukisan Anonim dan Tjahjono Widarmanto (Ngawi) dengan kumpulan puisi berjudul Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi para Pemuja Sajak.