<B/>Sajak-sajak Suara Kemerdekaan<B/>

Sajak-sajak Suara Kemerdekaan

Karya Ahmadun Yosi Herfanda NYANYIAN KEMERDEKAAN Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia Akankah kau biarkan aku duduk berduka Memandang saudaraku, bunda pertiwiku Dipasung orang asing itu? Mulutnya yang More »

Danarto Membawa “Doa Rabiah dari Basra”

Danarto Membawa “Doa Rabiah dari Basra”

Tangerang Selatan (SR) – Lama tidak terdengar kabarnya, novelis sufistik Danarto tiba-tiba muncul di kafe Roti Bakar 88 Pamulang. Malam itu, Sabtu 17 Juli, Danarto memang ditunggu kehadirannya untuk mengisi kultum sastra More »

Ngabuburit Sastra di Masjid Istiqlal Bincangkan Peran Sastra Islami

Ngabuburit Sastra di Masjid Istiqlal Bincangkan Peran Sastra Islami

JAKARTA (SR) — Ngabuburit sastra dengan menghadirkan sejumlah seniman dan sastrawan nasional digelar di selasar Masjid Istiqlal 14-18 Juni 2017, di depan sekitar 1.000 jamaah yang menunggu saat berbuka puasa. Acara yang More »

</B>Anugerah Sastra Litera 2017 Diraih para Penulis Muda</B>

Anugerah Sastra Litera 2017 Diraih para Penulis Muda

TANGERANG SELATAN (SR) — Hari Anugrah Sastra Litera 2017 yang digelar hari Jumat (28/4) di Resto Kampung Anggrek Buaran, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, berjalan meriah. Banyak sastrawan, pelaku seni, pelajar dan More »

Ahmadun Umumkan 23 Nomine Anugerah Sastra Litera

Ahmadun Umumkan 23 Nomine Anugerah Sastra Litera

TEMPO.CO, Jakarta – Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda mengatakan sebanyak 23 sastrawan Indonesia yang terdiri dari penyair dan cerpenis berpeluang untuk meraih Anugerah Sastra Litera 2017 — karya mereka pernah dimuat di portal More »

 

Sajak-sajak Suara Kemerdekaan

Sejumlah anggota komunitas pengendara sepeda motor melakukan upacara pengibaran bendera merah putih saat Peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI  di Lautan Pasir, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (17/8).  ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/ama/15

Karya Ahmadun Yosi Herfanda

NYANYIAN KEMERDEKAAN

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit-manisnya isi dunia
Akankah kau biarkan aku duduk berduka
Memandang saudaraku, bunda pertiwiku
Dipasung orang asing itu?
Mulutnya yang kelu
Tak mampu lagi menyebut namamu

Berabad-abad aku terlelap
Bagai laut kehilangan ombak
Atau burung-burung yang semula
Bebas di hutannya
Digiring ke sangkar-sangkar
Yang terkunci pintu-pintunya
Tak lagi bebas mengucapkan kicaunya

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppSMSTelegramYahoo MessengerEmailPrintShare

Danarto Membawa “Doa Rabiah dari Basra”

Danarto Tadarus Puisi Litera OKEOKEOKE

Tangerang Selatan (SR) – Lama tidak terdengar kabarnya, novelis sufistik Danarto tiba-tiba muncul di kafe Roti Bakar 88 Pamulang. Malam itu, Sabtu 17 Juli, Danarto memang ditunggu kehadirannya untuk mengisi kultum sastra religius dalam acara Tadarus Puisi Litera, yang sekaligus untuk menyambut malam nuzulul Qur’an.
Novelis yang juga penyair itu mengawali kultumnya dengan membicarakan sajak “Doa Rabiah dari Basra” karya ibu para sufi besar, Rabiah al Adawiyah, terjemahan Taufiq Ismail, berikut ini.

Wahai Tuhanku, apa pun jua bahagian dari dunia kini yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkanlah itu pada musuh-musuhMU. Dan apa pun juga bahagian dari dunia akan tiba yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkanlah itu pada sahabat-sahabatMu. Bagiku, Dikau sudah cukup.
Wahai Tuhanku, urusanku dan gairahku di dunia kini dan dunia akan tiba adalah semata mengingat Dikau di atas segalanya. Dari kesegalaan di semesta ini, pilihanku adalah berangkat menemui-Mu. Inilah yang akan kuucapkan kelak: “Dikau segala-galanya.” Wahai Tuhanku, tanda mata paling permata dalam hatiku ialah harapanku padaMu. Dan kata paling gula di lidahku adalah pujian padaMu. Dan waktu paling kurindu adalah jam ketika aku bertemu dengan Kau.
Wahai Tuhanku, aku tak dapat menahankan hidup duniawi ini tanpa mengingatMu. Dan bagaimana mungkin daku hidup di dunia akan tiba tanpa menatap wajahMu?

Ngabuburit Sastra di Masjid Istiqlal Bincangkan Peran Sastra Islami

Ahmadun -ngabuburit-sastra-di-masjid-istiqlal-jakarta

JAKARTA (SR) — Ngabuburit sastra dengan menghadirkan sejumlah seniman dan sastrawan nasional digelar di selasar Masjid Istiqlal 14-18 Juni 2017, di depan sekitar 1.000 jamaah yang menunggu saat berbuka puasa.

Acara yang diselenggarakan oleh Masjid Istiqlal bersama Dirjen Kebudayaan Kemdikbud dan Yayasan Rawamangun Mendidik ini diformat mirip talk show dengan diselingi pertunjukan musik religi Bianglala Voice. Hadirin berdialog tentang seni dan sastra religius dengan Embie C Noer, Yanusa Nugroho, Ahmadun Yosi Herfanda, Nurdin M Nur, dan Nanang Hp.

Acara diawali pertunjukan musik. Selain membawakan lagu-lagu religius, Bianglala juga membawakan sajak-sajak religius. Hadirin tampak antusian mengikuti acara. Bahkan, pada sesi Ahmadun YH, beberapa jamaah mengajukan diri untuk ikut membacakan sajak penyair religius mantan redaktur sastra Republika itu. Salah satunya adalah Beno SK, pebisnis perjalanan umrah dan haji, yang membacakan “Sajak Keranda” dengan penuh penghayatan.

Anugerah Sastra Litera 2017 Diraih para Penulis Muda

Peraih Anugerah Litera 2017 OKE

TANGERANG SELATAN (SR) — Hari Anugrah Sastra Litera 2017 yang digelar hari Jumat (28/4) di Resto Kampung Anggrek Buaran, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, berjalan meriah. Banyak sastrawan, pelaku seni, pelajar dan mahasiswa menghadiri acara yang diadakan oleh portal sastra Litera (www.litera.co.id) tersebut.

Kalangan sastrawan yang hadir tidak hanya berasal dari kota Tangsel saja tetapi datang juga dari beberapa kota sekitar. Tampak hadir, antara lain Sutardji Calzoum Bachri, Rida K. Liamsi, Hasan Aspahani, Maman S. Mahayana, Slamet Widodo, Fikar W. Eda, Shinta Miranda, Rini Intama, Asrizal Nur, Abah Yoyok, Humam S. Chudori, Rukmi Wisnu Wardani, Ni Komang Ariani, Dedy Tri Riyadi, Nana Sastrawan, Handoko F. Zainsyam, Shobir Pur, Uki Bayu Sejati, Budhi Setyawan, dan beberapa rekan pemerhati sastra dari PDS HB Jassin.

Acara yang didukung oleh Djarum Foundation serta Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud RI ini dimulai tepat pukul 14.30 wib, diawali dengan sambutan panitia yang disampaikan oleh Mustafa Ismail. Dalam sambutannya penyair kelahiran Aceh tersebut memberi apresiasi tinggi pada kalangan yang hadir. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film pendek karya sastrawan muda Tangerang Nana Sastrawan yang berjudul Elegi Penyair”. Acara yang dipandu oleh MC Andy Lesmana dan Zhevita Hariyani makin ramai ramai saja dikunjungi para pengunjung saat hari makin sore.

Ahmadun Umumkan 23 Nomine Anugerah Sastra Litera

litera-peluncuran-1-563x353

TEMPO.CO, Jakarta – Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda mengatakan sebanyak 23 sastrawan Indonesia yang terdiri dari penyair dan cerpenis berpeluang untuk meraih Anugerah Sastra Litera 2017 — karya mereka pernah dimuat di portal sastra Litera yang beralamat di litera.co.id.

“Sebagian di antara mereka adalah nama-nama baru dalam dunia sastra. Ini menggembirakan,” kata Ahmadun Yosi Herfanda, pemimpin umum sekaligus pemimpin redaksi Litera di Jakarta, 29 Maret 2017.

Menurut Ahmadun Yosi Herfanda, karya mereka mengisi rubrik puisi dan cerpen Litera selama 2016. Di jajaran penyair, ada Budhi Setyawan, Dedy Tri Riyadi, Eddy Pranata PNP, Eko Ragil Ar-Rahman, Fikar W. Eda, Iwan Setiawan, Moh. Ghufron Cholid, Rai Sri Artini, Rukmi Wisnu Wardani, Surya Gemilang, Wahyu Gandi G, dan Willy Ana.

Untuk kategori cerpen, ada Armin Bell, Dianing Widya, Kasim MD, Kristiawan Balasa, Kurnia Gusti Sawiji, Mahan Jamil Hudani, Ni Komang Ariani, Setiyo Bardono, Seto Permada, Yuditeha dan Zaenal Radar T.

Imaji yang Menari Dalam Puisi Alya Salaisha

Alya dan Bintang OKE

Apresiasi Ahmadun Yosi Herfanda

Puisi dimulai dari kegairahan

Dan berakhir dengan kearifan

(Robert Frost)

Membaca sajak-sajak Alya Salaisha dalam buku kumpulan puisi Taman Terakhir saya menemukan imaji yang menari-nari dalam sajak. Imaji itu bergerak dengan gemulai, di balik sususan kata yang indah, membangun gambar-gambar dinamis yang samar, dan menghadirkan teka-teki makna yang menantang pembaca untuk menangkapnya. Tidak gampang menjawab teka-teki makna yang tersembunyi di balik tarian imaji itu, ketika deretan imaji membentuk gambar-gambar yang surealistik.

Sutardji akan Baca Puisi dalam Penghargaan Sastra Litera

Sutardji Calzoum Bachri KL

Tangerang Selatan(SR) – Presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, akan tampil membaca puisi pada Malam Penghargaan Sastra Litera 2017 di Resto Kampung Anggrek, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Jumat 28 April 2017. Acara dalam rangka HUT portal sastra Litera (www.litera.co.id) ini akan dimulai pukul 15.00 wib dengan sarasehan sastra. “Ini untuk pertama kalinya Bang Sutardji akan baca puisi di Tangsel,” kata Mustafa Ismail, ketua Panitia.

Portal sastra Litera, lanjut Mustafa, akan memberikan penghargaan sastra kepada penulis puisi terbaik dan cerpen terbaik yang telah ditayangkan di portal sastra tersebut. Puisi dan cerpen terbaik itu akan dipilih dari karya-karya yang telah ditayangkan di portal sastra Litera dalam rentang waktu hampir setahun, sejak April hingga 30 Desember 2016. “Selain akan memdapatkan plakat, pememang juga akan menerima uang tunai,” katanya.

Menurut Mustafa, untuk tahun-tahun berikutnya, pemenang akan dipilih dari puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang ditayang di portal Litera sejak awal Januari hingga 30 Desember. Mulai tahun depan, tiap bulan akan dipilih dua cerpen unggulan dan 10 puisi unggulan. Sehingga, dalam setahun akan terkumpul 24 cerpen unggulan dan 120 puisi unggulan. Namun, untuk tahun ini baru dapat dipilih 12 cerpen unggulan dan 24 puisi unggulan. “Karya-karya unggulan tersebut akan dibukukan bersama karya pemenang,” katanya.

Empat Penyair Peraih Penghargaan Sastra Baca Puisi di Tembi

Ahmadun YH - Umi Kulsum - Rini Intama - Tjahjono Widarmanto - foto bareng usai baca puisi di Tembi Bantul

Bantul (SR) — Empat penyair yang antologi puisinya mendapat penghargaan pada Hari Puisi Indonesia 2016,  tampil  membacakan puisi karya mereka pada  acara Sastra Bulan Purnama di Tembi Rumah Budaya, Jl Parangtritis Km 8,5, Bantul, Yogyakarta, Jumat, 13 Januari 2017.

Ke-4 penyair asal kota berbeda itu adalah Ahmadun Yosi Herfanda (Tangerang Selatan) dengan kumpulan puisi berjudul Ketika Rumputan Bertemu Tuhan, Rini Intama (Tangerang) membacakan puisi yang terkumpul dalam kumpulan puisi Kidung Cisadane, Umi Kulsum (Yogyakarta) dengan antologi puisi  berjudul Lukisan Anonim dan Tjahjono Widarmanto (Ngawi) dengan kumpulan puisi berjudul Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi para Pemuja Sajak.

Tiga Penyair Poros Selatan Luncurkan Buku

Bincang Sastra 88

TANGERANG SELATAN (SR) — Acara bertajuk Bincang (Ngopi) Sastra bersama Ahmadun Yosi Herfanda yang digelar di Kafe Roti Bakar 88, di Komplek Ruko Pamulang Permai, Tangerang Selatan, Banten, telah berlangsung untuk kedua kalinya, pada Minggu, 29 Januari 2017. Bincang sastra Minggu sore kali ini dihadiri para pelaku sastra yang ada di Kota Tangerang Selatan dan Depok.

Selain berbincang tentang berbagai persoalan sastra tertkini, acara juga diisi peluncuran tiga buku antologi puisi, meliputi Perempuan Bulan Ranjang karya Iman Sembada, Tabot Aku Bengkulu karya Willy Ana, dan Oro-Oro Ombo karya Heryus Saputro Samhudi. Mereka adalah penyair Poros Selatan yang tinggal di Tangerang Selatan (Iman Sembada dan Heryus) dan Depok (Willy Ana). Pada pekan sebelumnya, buku Oro-Oro Ombo karya Heryus Saputro sudah diluncurkan di Perpustakaan MPR RI.

Ketika Rumputan Meraih Penghargaan Hari Puisi

Ketika Rumputan dan Negeri Daun OKE

Jakarta (SR) — Buku kumpulan puisi terbaru karya Ahmadun Yosi Herfanda, Ketika Rumputan Bertemu Tuhan, berhasil meraih Penghargaan Hari Puisi Indonesia 2016. Buku terpilih sebagai Lima Unggulan bersama kumpulan puisi Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering karya Hasan Aspahani,  Kidung Cisadane karya Rini Intama (Tangerang), Lukisan Anonim karya Umi Kulsum (Yogyakarta), dan Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi para Pemuja Sajak karya Tjahjono Widarmanto (Ngawi). Dewan Juri yang terdiri dari Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, dan Maman S. Mahayana, memilih kumpulan puisi Hasan Aspahani sebagai Pemenang Utama.

Kelima buku tersebut, menurut ketua panitia HPI 2016 Asrizal Nur, berhasil menyisihkan 240 judul buku yang masuk ke Panitia. Jumlah buku puisi yang dikirimkan para penyair untuk mengikuti Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia 2016 melonjak tajam. Terakhir, sebanyak 245 judul buku masuk ke panitia. Sementara pada tahun lalu, 2015, jumlah buku yang masuk hanya 111 judul buku. “Itu menandakan iklim perpusian Indonesia terus tumbuh subur,” kata Asrizal, seperti dikutip Ruang Baca Tempo.co.id, 5 Oktober 2016.

 

Sastra di Tengah Kecenderungan Degradasi Budaya

Ahmadun Ngulik Sastra UB - OKEOKE

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, ketua lembaga literasi indonesia

 —

 

Banyak pertanda (indikasi) yang mengisyaratkan bahwa generasi muda dewasa ini mengalami semacam degradasi budaya. Degradasi dapat diartikan sebagai kemerosotan, penurunan, atau kemunduran.[1] Degradasi budaya berarti kemerosotan atau kemunduran dalam bidang budaya, baik pada tataran nilai-nilai yang mewarnai sikap hidup masyarakat seperti moral dan etika maupun tradisi dan ekspresi seni-budaya – termasuk sastra.

Jika kita cermati, kecenderungan degradasi budaya itu semakin kini semakin mengkhawatirkan, semakin muda generasi kita maka tingkat degradasi budaya itu cenderung semakin parah. Ada indikasi bahwa generasi muda kita, generasi muda Indonesia, makin tercerabut dari akar kebudayaannya. Kecenderungan degradasi budaya itu juga makin parah di masyarakat perkotaan. Semakin metropolis suatu masyarakat cenderung makin tercerabut dari akar budayanya.

Di kalangan sebagian besar generasi tua mungkin kita masih melihat sopan santun atau etika yang mewarnai pergaulan mereka. Di kalangan mereka pula kita juga masih dapat melihat kecintaan pada budaya tradisi, seperti wayang, ketoprak, ludruk, reog, karawitan, angklung, dan sastra lama semacam pantun dan geguritan. Tetapi, manakala kita mengamati generasi muda masa kini, mungkin kita hanya bisa mengelus dada: betapa makin asingnya mereka dari unsur-unsur kebudayaan bangsa tersebut.